Sang Pengantin dan Bidadari Lembah Neraka

Islah
Naili Adilah Hamhij, M.Pd
Pengurus Ikatan Sarjana Nadhlatul Ulama (ISNU) Lampung

Penulis: Naili Adilah Hamhij, M.Pd

Editor: Erlan Heryanto

Permasalahan mengenai ketahanan nasional banyak dibahas dari pelbagai perspektif. Kajian ini muncul karena banyak ancaman dan tantangan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia, baik ancaman yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu ancaman yang sangat dirasakan oleh Negara ini ialah perilaku radikalisme dan terorisme.

Isu ini harus dibahas, sebab jika terus dibiarkan perilaku ini dapat meruntuhkan kedaulatan Negara Kesatuan Repoblik Indonesia. Ancaman yang muncul ini adalah satu musuh peradaban yang akan merusak individu, masyarakat dan mengancam ketahanan nasional.

Baru-baru ini, kita disuguhi beragam tindak kekerasan yang terselimuti oleh anti-Pancasilaisme, fanatisme, rasisme, SARA-isme hingga terorisme. Selama tujuh hari berturut-turut Indonesia diserbu teror yang diawali pengeboman di Rutan Mako Brimob, Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya dan Polrestabes Surabaya.

Padahal, Indonesia dikenal dengan Negara multikultural (beragam adat, budaya, ras, suku bangsa, dan agama) namun tiba-tiba tercederai oleh fanatisme dan brutalisme disebabkan intoleransi dalam kehidupan  bermasyarakat.

Munculnya kekerasan dan teror di beberapa daerah di Indonesia ini menimbulkan kekhawatiran bagi semua kalangan masyarakat dan hal ini pula perlu mendapat perhatian serius baik dari keluarga, pemerintah, masyarakat, khususnya para tokoh agama.

Perhatian serius ini dapat diterapkan melalui pendidikan multikultural dalam rangka meminamilisir dampak buruk radikalisme yang berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan nilai-nilai keberadaban dan demokrasi yang dianut oleh bangsa ini.

Ciri Kelompok Radikal

Akhir-akhir ini seingkali kita mendengar tentang hilangnya aggota keluarga. Seorang ayah, isteri bahkan anak yang tadinya hidup biasa saja tiba-tiba menghilang. Ternyata tidak sedikit mereka telah bergabung dalam gerakan radikal. Ciri kelompok radikal dapat terlihat, diantaranya; Pertama, berperilaku fanatik. Perilaku ini mengklaim kebenaran tunggal dan menyesatkan kelompok lain yang tak sependapat sehingga tumbuh jiwa intoleran . Kedua, kelompok radikal kebanyakan berlebihan dalam beragama yang tidak pada tempatnya. Ketiga, kasar dalam berinteraksi, keras dalam berbicara dan emosional dalam mempengaruhi orang lain. Keempat, kelompok radikal mudah berburuk sangka kepada orang lain di luar golongannya. Mereka senantiasa memandang orang lain hanya dari aspek negatifnya dan mengabaikan aspek positifnya. Kelima, mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda pendapat. Keenam, berafiliasi dengan kelompok ekstrimis. Gerakan kelompok ini sangatlah rapi, terstruktur namun terselubung.

Hal ini terbukti dari beberapa pelaku terorisme di Indonesia yang tidak tahu  dan tidak menyadari bahwa anggota keluarga dan tetangganya terlibat dalam jaringan terorisme. Ciri terakhir, mudah terpancing isu. Sadar atau tidak mudahnya kita terpancing isu menjadi salah satu ciri perilaku radikal. Dewasa ini, seriring dengan berkembangnya media sosial menjadi fenomena (latah) dalam berfatwa.

Seseorang dengan mudah sekali menyebar, menghujat dan menghakimi segala hal yang terjadi terlepas berita itu hoax atau benar adanya.

Perbuatan Berhadiah Bidadari Surga

Fenomena bom bunuh diri yang terjadi saat ini membuat kita semakin bertanya-tanya apakah gerangan yang menjadi motivasi para pelaku radikalisme dan terorisme sehingga tega melakukan perbuatan brutal itu.

Ternyata percaya atau tidak, fenomena ini salah satunya juga dilatar belakangi oleh doktrin yang dinilai ekstrim yakni siapa saja yang bersedia menjadi “pengantin (pelaku bom bunuh diri)” dijanjikan dengan 72 bidadari surga. Tidak sampai situ, bukan hanya doktrin bidadari surga saja namun perekrut meyakinkan pelaku akan masuk surga secara bersama-sama jika dalam serangan turut mengajak keluarga. Buktinya, seprti apa yang dilakukan Dita Oepriyanto dan Puji Kuswati yang mengajak 4 anaknya untuk melakukan aksi bom bunuh diri serempak di 3 gereja di Surabaya. Padahal, tidak ada satu agama pun di dunia ini yang mengajarkan perilaku radikal.

Pendidikan Multikultural Upaya Membendung Radikalisme

Pendidikan multikultural dijadikan sebagai model pendidikan yang mengajarkan dan menanamkan ideologi yang memahami, menghormati dan menghargai harkat dan martabat manusia tanpa melihat seseorang dari aspek ekonomi, budaya, etnis, bahasa dan agama sehingga tertanam karakter dan kesadaran akan hidup bersama dalam keanekaragaman dalam perbedaan. Dengan demikian, akan terjalin sikap saling mendengar, meghormati dan menghargai pendapat untuk menemukan jalan terbaik mengatasi berbagai macam problema yang dihadapi.

Sementara itu, jika pendidikan multicultural tidak digalakkan dalam kehidupan ini maka akan muncul radikalisme yang ditandai oleh tindakan-tindakan keras, ekstrim, dan anarkis sebagai wujud penolakan terhadap gejala yang dihadapi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of